Pernah ketemu orang yang bilang, "Gue mah santai, yang penting happy. Duit itu bukan segalanya!"? Atau mungkin kamu sendiri kadang ngerasa gitu? Di tengah gebyar ibu kota yang serba mahal, gaya hidup kayak gitu keliatan kayak plot twist yang nyeleneh.
Tapi, sebenernya apa yang ada di kepala orang-orang kayak gini? Apa mereka sudah mencapai level pencerahan, atau justru lagi pake coping mechanism yang canggih? Yuk, kita bedah pelan-pelan.
Alasan #1: Pertahanan Diri Ala Otak Kita
Bayangin gini: Lo tau diri lo harusnya nabung buat pensiun, tapi gaji bulan ini abis buat bayar ini-itu. Ngerasa gagal, kan? Nah, otak kita pinter banget buat ngelindungi kita dari perasaan gagal ini.
Jadinya, alih-alih ngomong, "Wah, gue gagal nih ngatur duit," otak kita bakal nghibur dengan bilang, "Ah, ngapain pikirin pensiun? Yang penting hidup sekarang happy. Duit buat pensiun mah gak penting!"
Ini namanya Rasionalisasi. Kita bikin alasan yang kedengaran bagus buat nutupin ketidakmampuan kita. Mirip kayak rubah yang ngak bisa gapai anggur, trus bilang, "Ah, pasti anggurnya asam sih."
Alasan #2: Takut Dikira "Materialistis"
Di kepala mereka, seringkali ada dikotomi (pemikiran hitam-putih):
- Pilihan A: Jadi orang spiritual, sederhana, baik hati.
- Pilihan B: Jadi orang materialistis, serakah, pencinta dunia.
Nah, karena pengen banget dilihat sebagai orang yang Pilihan A, mereka akan menolak segala hal yang berbau Pilihan B. Ngebahas duit? Ih, itu urusan orang materialistis. Ngebahas investasi? Waduh, duniawi banget.
Mereka gagal melihat bahwa ada jalan tengah : bisa jadi orang yang spiritual dan pinter ngatur duit. Duit bisa jadi alat buat nyekolahin anak, bantu orang tua, atau naik haji/umroh berkali-kali—yang mana itu semua adalah perbuatan baik.
Alasan #3: Sekedar Gengsi atau "Virtue Signaling"
Ini yang agak sensitif. Kadang, bilang "duit gak penting" itu adalah cara buat dapetin social credit. Lo keliatan lebih "bijak" dan "bersahaja" dibandingkan temen lo yang sibuk ngomongin saham atau properti.
It's a way to feel superior in a different way. Di tengah orang-orang yang pamer kekayaan, ada kepuasan tersendiri dengan memamerkan "ketidakterikatan" pada harta.
Alasan #4: Beneran Trauma atau Kecemasan
Ini sisi yang lebih dalam. Bisa jadi orang itu punya pengalaman buruk sama duit.
- Mungkin dulu ortunya berantakan terus bertengkar masalah duit.
- Mungkin dia pernah gagal bisnis dan trauma buat ngurus duit lagi.
Alhasil, daripada harus menghadapi rasa sakit itu lagi, lebih mudah buat ngeles dan bilang, "Gue gak peduli soal duit." Ini seperti orang yang takut ditolak cewek/cowok, trus bilang, "Gue emang memutuskan buat jomblo forever. Pacaran mah gak penting."
Terus, Ini Sehat Gak Sih?
Bisa iya, bisa enggak.
Sehat banget kalo... Ini adalah pilihan sadar setelah lo mampu memenuhi kebutuhan dasar. Lo memilih hidup minimalis, hemat, dan fokus pada pengalaman daripada barang. Ini namanya voluntary simplicity.
Gak sehat kalo... Ini cuma alesan buat males, menghindar tanggung jawab, dan ngebebanin orang lain. Misalnya, karena bilang "duit gak penting", lo jadi gak nabung samsek. Ujung-ujungnya, pas tua, lo jadi beban buat anak lo sendiri. Atau, lo gak bisa bantu orang tua yang lagi sakit karena kondisi keuangan lo berantakan.
Kesimpulan: Nemuin "Sweet Spot"
Gini-gini, guys. Mengakui bahwa duit itu penting di jaman sekarang bukanlah dosa. Itu namanya sadar realitas. Lo hidup di masyarakat modern, bukan di hutan jadi pertapa.
Duit itu kayak listrik. Lo gak bisa hidup tenang di kota tanpa listrik: buat charger HP, kulkas, AC. Tapi, lo juga gak menjadikan "listrik" sebagai tujuan hidup kan? Lo gak bangun pagi trus teriak, "Aku cinta listrik!" Lo cuma butuh listrik cukup buat ngelakuin hal-hal yang beneran penting : kerja, istirahat, hiburan.
Sama kayak duit. Jadikan dia sebagai alat, bukan tujuan akhir.
Jadi, daripada bilang, "Duit gak penting," mending kita ubah mindset jadi:
"Duit itu penting sebagai alat buat hidup yang tenang dan buat berbuat baik. So, yuk belajar ngelola dia dengan bener, biar kita yang kontrol duit, bukan duit yang kontrol hidup kita."
Nah, sekarang lebih adem kan? Bisa tetap "spiritual" tapi juga "practical". That's the real power.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar