“Baiklah. Sekarang beri tahu saya mengapa
hidup jadi begitu rumit?”
“Hidup itu tidaklah rumit. Yang rumit adalah cara
kamu menyikapi hidup.”
“Saya khawatir akan masa depan saya, masa depan anak anak saya, apalagi di era sekarang tidak ada yang gratis.”
“Rasa khawatir adalah sikap yang membuang
waktu. Tidak akan mengubah apapun, bahkan bisa membuamu kehilangan keceriaan
karena sibuk melakukan banyak hal untuk terhindar dari yang dikhawatirkan. Rasa
khawatir itu adalah permainan iblis untuk membuatmu lupa kepada Tuhan dan lebih
percaya kepada dirimu sendiri.”
“Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir
jika ada begitu banyak ketidakpastian?”
“Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari tapi
kekhawatiran adalah sebuah pilihan.”
“Tapi begitu banyak rasa sakit karena
ketidakpastian sehingga menimbulkan penderitaan..”
“Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.”
“Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang
baik selalu menderita?”
“Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas
tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang harus melewati waktu dengan rasa sakit
akibat penderitaan dan kekecewaan. Begitulah cara Tuhan membuat manusia menjadi
lebih baik karena waktu,” Jawab saya.
“Maksudnya, karena proses waktu, pengalaman
pahit oleh berbagai sebab adalah bagian dari proses untuk menjadi sempurna?”
“Ya, pengalaman adalah guru terbaik. Guru
pengalaman memberikan ujian terlebih dahulu agar kita paham dan bijak. Guru
sekolah memberikan pemahaman terlebih dahulu agar kita siap diuji.”
“Tertapi, mengapa kita harus melalui semu ujian
itu ? Mengapa kita tidak dapat hidup bebas dari masalah?”
“Jika masalah tidak ada, potensi
seseorang akan terpendam atau tersimpan. Potensi orang akan keluar bila dia
punya masalah. Ini adalah standar kehidupan manusia. Orang yang takut dengan
masalah adalah orang yang takut berbuat dan dia tidak akan bisa membangkitkan
potensi terpendamnya.”
“Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini
saya tidak tahu ke mana harus melangkah..”
“Jika kamu melihat ke luar, kamu tidak akan
tahu ke mana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu
arah.”
“Kadang-kadang kegagalan membuat saya
menderita. Apa yang dapat saya lakukan?”
“Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh
orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan
perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui kau sedang
berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.
Kompas itu adalah agama.”
Dia terdiam agak lama. “Kadang saya ingin jadi
wirausaha agar punya penghasilan lebih tapi saya takut risikonya. Takut
gagal,” katanya kemudian.
“Risiko tidak seharusnya dihindari tapi harus dihadapi.
Mungkin kamu bisa menghindari risiko dan terhindar dari kekecewaan dan
kesedihan akibat kegagalan. Tapi kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, kamu bukan
siapa-siapa. Sementara dengan risiko yang kamu hadapi itu, kamu akan tumbuh
dan berkembang dari rasa sakit dan kecewa akibat kegagalan, belajar arti
mencintai dan menghargai hidup.”
“Di saat saat sulit, bagaimana saya bisa tetap
termotivasi?”
“Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu
berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan. Selalu syukuri
yang sudah kau peroleh, jangan hitung apa yang tidak kau
peroleh. Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa
kamu. Berhenti berkeluh kesah dengan keadaan. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah
proses pencarian tapi sebuah proses penciptaan. Besar kecilnya hasil
hanyalah Tuhan yang menilai.”
“Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik
dalam hidup ini?”
“Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalah.
Peganglah hari ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.”
Kembali dia terdiam agak lama. “Mengapa Tuhan
belum menjawab doa saya?”
“Allah sedang menambahan kesabaran pada dirimu
dan Allah cinta kepada orang yang sabar. Saat kelak Allah menjawab doamu dan
mengabulkannya, imanmu sudah kuat dan bisa bijak menerima pemberian Allah. Ingatlah,
Allah selalu memilih yang terbaik untuk kita dan tentu pada saat yang terbaik pula.”
“Saya merasa Allah melupakan saya karena doa
saya tidak terkabulkan.”
“Berhentilah menduga-duga doa tidak
terkabulkan. Mengapa mulai hari ini kamu tidak mencoba menerima saja
yang Tuhan berikan? Cobalah, kamu akan merasakan bahwa sebetulnya doa kamu
sudah lama Allah kabulkan hanya saja kamu tidak pernah berterima kasih kepada
Allah. Kamu terus meminta dan meminta sehingga lupa bersyukur.”
“Terima kasih, Pak, untuk nasihatnya. Semuanya
jelas dan mudah dipahami.”
“Terima kasih kembali.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar