Rabu, 14 Mei 2025

A Finisher

 



Kenapa Tim Anda Butuh "Si Penyelesai (Finisher)" — Sosok yang Sering Salah Dipahami

Bayangkan: Meeting pagi di warung kopi, tim Anda semangat 45 bahas proyek baru. Ide-ide cemerlang, semangat startup, janji "ini bakal viral!". Tapi sebulan kemudian? File di Google Drive menganggur, task di WhatsApp group tenggelam, deadline jadi bahan candaan. Sound familiar? Di sinilah Si Penyelesai muncul — orang yang nggak cuma jago ngomong "kita harus…" tapi beneran ngeklik "selesai". Mereka seperti tukang parkir yang bisa nyelipin mobil di gang sempit: jarang, tapi penyelamat.


#1: Si Penyelesai Bukan Si Perfect, Tapi Si "Udah Siap Launch!"

Jangan dikira penyelesai itu tipe orang yang revisi PowerPoint 20 kali biar animasinya flawless. Bukan. Mereka tipe yang berani bilang, "Gapapa ada typo, yang penting presentasi jalan besok!".


Afirmasi buat Lo:
"Nggak perlu nunggu sempurna buat mulai — atau selesai. Yang penting bergerak. Salah? Bisa diperbaiki. Tapi nggak selesai-selesai? Nggak akan pernah ada progres!".

Mulailah dengan kebiasaan kecil: Rayain tiap kali lo nge-klik ‘submit’ atau ‘kirim’, sekecil apa pun itu. Proyek RT yang berantakan? Gaskeun. Laporan keuangan UMKM lo? Posting aja dulu. Ingat: Setiap hal yang lo selesaikan, sekalipun hasilnya jelek, itu latihan buat jadi lebih baik.


#2: Mereka Nggak Cuma Datang Pas Acara Tamat

Ada mitos: penyelesai cuma muncul di final episode kayak cameo di film. Salah! Mereka justru aktif dari episode 1.

Afirmasi buat Lo:
"Jangan mau jadi ‘si pembuka’ atau ‘si penutup’ doang. Jadi ‘si penyambung’ yang gigih di tengah-tengah kekacauan."

Latih diri buat nanyain "Apa yang bisa gue lakukan HARI INI biar proyek ini nggak mandek?" sekalipun cuma 5 menit. Mau bikin konten TikTok? Ambil HP, rekam 1 ide, edit 1 menit — yang penting ada action. Lama-lama, kebiasaan ngejar progress bakal jadi otomatis.


#3: Bukan Bakat Bawaan, Tapi Kebiasaan Ngepel Lantai

Jangan kira penyelesai itu lahir dari keluarga yang rapih ala Marie Kondo. Nggak!
Afirmasi buat Lo:

"Lo nggak perlu jadi robot biar jadi penyelesai. Lo cuma perlu ngehajar rasa ‘mager’ dan ‘ah, ntar deh’ pelan-pelan."


Contoh konkret:

  • Kalo lo tipe yang suka nunda, pasang target "Gue cuma perlu kerja 10 menit aja". Seringnya, begitu mulai, lo bakal lanjut.
  • Habis rapat? Langsung tulis tindak lanjut di notes, jangan nunggu besok.
  • Gagal menyelesaikan sesuatu? Jangan nyalahin diri — apresiasi usaha lo, lalu evaluasi "Apa yang bikin stuck?".

#4: Tim Player, Bukan Bintang Iklan Indomie

Penyelesai tahu: keberhasilan tim itu seperti rendang — harus kompak.


Afirmasi buat Lo:
"Nggak perlu jadi superhero sendirian. Minta tolong, delegasikan, dan rayain kemenangan kecil bareng tim. Selesaiin sesuatu bersama itu lebih memuaskan!"


Latihan:

  • Kalo lo pemimpin, biasakan bilang "Ayo kita break down tugas besar jadi kecil-kecil, terus bagi siapa mau ngambil bagian".
  • Kalo lo anggota tim, jadilah "si pengingat" yang baik: "Mas, kita ada deadline Jumat ini — gue bantu apa?".

#5: Cepat Bukan Asal-asalan, Tapi Efisien Ala Kang Jualan Soto

Penyelesai paham kapan harus "woles" dan kapan harus "gaskeun".


Afirmasi buat Lo:
"Nggak semua hal perlu jadi masterpiece. Kadang, ‘beres’ aja udah nilai 100."

Tips jadi efisien:

  • Pakai "rule of 80%": Kalo udah 80% oke, lanjut. 20% sisanya bisa diperbaiki sambil jalan.
  • Buat prioritas "Mana yang beneran urgent, mana yang cuma keliatan penting".

Intinya: Penyelesai Itu Motor Penggerak yang Low Profile

Afirmasi pamungkas buat Lo:


"Jadilah orang yang nggak cuma jago ngomong, tapi juga berani nuntaskan. Sekecil apa pun itu. Karena di dunia yang penuh ide gagasan, orang yang bertindak sampai garis finish — dialah yang menang."

Mulai dari mana?

  1. Pilih 1 tugas yang lo tunda-tunda (misal: ngisi data BPJS, bikin proposal usaha, atau bersihin gudang).
  2. Breakdown jadi 3 langkah kecil.
  3. Komitmen: "Gue bakal selesaiin ini dalam 3 hari — nggak peduli hasilnya kayak apa."
  4. Pasang reminder, dan... GAS!

TL;DR:
Jadi penyelesai itu kayak naik sepeda — awalnya goyang, tapi makin sering lo kayuh, makin lancar. Nggak peduli hasil akhirnya ‘wah’ atau biasa aja, yang penting SELESAI. Setiap kali lo nuntaskan sesuatu, otak lo akan ngerilis hormon kebahagiaan — dan itu bakal bikin lo ketagihan. Jadi, mulai sekarang, janji ke diri sendiri: "Gue nggak mau jadi kolektor ide lagi. Gue mau jadi penghasil karya." 💪

"Beres lebih baik daripada perfect.
Selesai lebih keren daripada stuck.
Gaskeun, lah!" 🚀

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Tujuan Kamu Tidak Berhasil (Dan Apa Yang Harus Dilakukan)

Orang-orang datang kepada saya untuk satu alasan utama: mereka stuck. Mereka punya mimpi besar. Hal-hal yang ingin mereka bangun, capai, dan...