Kenapa Tim Anda Butuh "Si Penyelesai (Finisher)" — Sosok
yang Sering Salah Dipahami
Bayangkan: Meeting pagi di warung kopi, tim Anda semangat 45 bahas proyek baru. Ide-ide cemerlang, semangat startup, janji "ini bakal viral!". Tapi sebulan kemudian? File di Google Drive menganggur, task di WhatsApp group tenggelam, deadline jadi bahan candaan. Sound familiar? Di sinilah Si Penyelesai muncul — orang yang nggak cuma jago ngomong "kita harus…" tapi beneran ngeklik "selesai". Mereka seperti tukang parkir yang bisa nyelipin mobil di gang sempit: jarang, tapi penyelamat.
#1: Si Penyelesai Bukan Si Perfect, Tapi Si "Udah Siap Launch!"
Jangan dikira penyelesai itu tipe orang yang revisi PowerPoint 20 kali biar animasinya flawless. Bukan. Mereka tipe yang berani bilang, "Gapapa ada typo, yang penting presentasi jalan besok!".
Afirmasi buat Lo:
"Nggak perlu nunggu sempurna buat mulai — atau selesai. Yang penting
bergerak. Salah? Bisa diperbaiki. Tapi nggak selesai-selesai? Nggak akan pernah
ada progres!".
Mulailah dengan kebiasaan kecil: Rayain tiap kali lo nge-klik ‘submit’
atau ‘kirim’, sekecil apa pun itu. Proyek RT yang berantakan? Gaskeun.
Laporan keuangan UMKM lo? Posting aja dulu. Ingat: Setiap hal yang lo
selesaikan, sekalipun hasilnya jelek, itu latihan buat jadi lebih baik.
#2: Mereka Nggak Cuma Datang Pas Acara Tamat
Ada mitos: penyelesai cuma muncul di final episode kayak
cameo di film. Salah! Mereka justru aktif dari episode 1.
Afirmasi buat Lo:
"Jangan mau jadi ‘si pembuka’ atau ‘si penutup’ doang. Jadi ‘si
penyambung’ yang gigih di tengah-tengah kekacauan."
Latih diri buat nanyain "Apa yang bisa gue lakukan HARI INI biar
proyek ini nggak mandek?" sekalipun cuma 5 menit. Mau bikin
konten TikTok? Ambil HP, rekam 1 ide, edit 1 menit — yang penting ada
action. Lama-lama, kebiasaan ngejar progress bakal jadi
otomatis.
#3: Bukan Bakat Bawaan, Tapi Kebiasaan Ngepel Lantai
Jangan kira penyelesai itu lahir dari keluarga yang rapih
ala Marie Kondo. Nggak!
Afirmasi buat Lo:
"Lo nggak perlu jadi robot biar jadi penyelesai. Lo cuma perlu ngehajar rasa ‘mager’ dan ‘ah, ntar deh’ pelan-pelan."
Contoh konkret:
- Kalo
lo tipe yang suka nunda, pasang target "Gue cuma perlu kerja
10 menit aja". Seringnya, begitu mulai, lo bakal lanjut.
- Habis
rapat? Langsung tulis tindak lanjut di notes, jangan nunggu besok.
- Gagal
menyelesaikan sesuatu? Jangan nyalahin diri — apresiasi usaha lo,
lalu evaluasi "Apa yang bikin stuck?".
#4: Tim Player, Bukan Bintang Iklan Indomie
Penyelesai tahu: keberhasilan tim itu seperti rendang — harus kompak.
Afirmasi buat Lo:
"Nggak perlu jadi superhero sendirian. Minta tolong, delegasikan, dan
rayain kemenangan kecil bareng tim. Selesaiin sesuatu bersama itu lebih
memuaskan!"
Latihan:
- Kalo
lo pemimpin, biasakan bilang "Ayo kita break down tugas besar
jadi kecil-kecil, terus bagi siapa mau ngambil bagian".
- Kalo
lo anggota tim, jadilah "si pengingat" yang
baik: "Mas, kita ada deadline Jumat ini — gue bantu
apa?".
#5: Cepat Bukan Asal-asalan, Tapi Efisien Ala Kang Jualan Soto
Penyelesai paham kapan harus "woles" dan kapan harus "gaskeun".
Afirmasi buat Lo:
"Nggak semua hal perlu jadi masterpiece. Kadang, ‘beres’ aja udah nilai
100."
Tips jadi efisien:
- Pakai "rule
of 80%": Kalo udah 80% oke, lanjut. 20% sisanya bisa diperbaiki
sambil jalan.
- Buat
prioritas "Mana yang beneran urgent, mana yang cuma keliatan
penting".
Intinya: Penyelesai Itu Motor Penggerak yang Low Profile
Afirmasi pamungkas buat Lo:
Mulai dari mana?
- Pilih
1 tugas yang lo tunda-tunda (misal: ngisi data BPJS, bikin
proposal usaha, atau bersihin gudang).
- Breakdown
jadi 3 langkah kecil.
- Komitmen:
"Gue bakal selesaiin ini dalam 3 hari — nggak peduli hasilnya kayak
apa."
- Pasang reminder, dan... GAS!
TL;DR:
Jadi penyelesai itu kayak naik sepeda — awalnya goyang, tapi makin sering lo
kayuh, makin lancar. Nggak peduli hasil akhirnya ‘wah’ atau biasa aja,
yang penting SELESAI. Setiap kali lo nuntaskan sesuatu, otak lo akan
ngerilis hormon kebahagiaan — dan itu bakal bikin lo ketagihan. Jadi, mulai
sekarang, janji ke diri sendiri: "Gue nggak mau jadi kolektor ide
lagi. Gue mau jadi penghasil karya." 💪
Tidak ada komentar:
Posting Komentar