Senin, 07 April 2025

Mengapa Kurs Rupiah Melemah?



Pasar global diguncang ketidakpastian pasca-pemberlakuan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat. Indeks saham di berbagai negara mengalami penurunan signifikan. S&P 500 terpangkas hampir 14%, disusul Dow Jones yang turun 12%, dan Nasdaq merosot 16%. Di Asia, kondisi tak jauh berbeda—Nikkei 225 Tokyo anjlok 7,8%, Hang Seng Hong Kong terjun bebas 13,2%, dan Shanghai Composite kehilangan 7,3%. Taiwan dan Korea Selatan juga tak luput dari tekanan, dengan Taiex turun 9,7% dan Kospi merosot 5,6%. Bahkan pasar di Australia dan Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Inggris ikut terimbas, masing-masing kehilangan 4,2% hingga 5,8%.


Akar Masalah: Efek Domino Kebijakan AS dan Respons China

Lantas, mengapa kebijakan tarif yang sejatinya membebani konsumen AS justru berdampak global? Jawabannya terletak pada reaksi balasan China. Sebagai pemain utama dalam rantai pasokan dunia—menguasai 20% supply chain global dan 26% manufaktur internasional—kebijakan China menciptakan gelombang ketidakpastian. Investor pun bereaksi dengan aksi jual besar-besaran di pasar saham dan beralih ke instrumen yang lebih aman, seperti surat utang negara-negara dengan fundamental kuat—Jerman, Jepang, dan AS—yang dianggap sebagai safe haven.


Dampaknya pada Rupiah

Rupiah ikut tertekan karena Indonesia terdampak kebijakan tarif tinggi tersebut. Kekhawatiran resesi global semakin nyata, terutama karena AS merupakan tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia setelah China. Akibatnya, Credit Default Swap (CDS) Indonesia melonjak, menyebabkan harga Surat Berharga Negara (SBN) turun seiring naiknya yield. Tekanan terhadap Rupiah pun semakin kuat seiring arus keluar modal asing.


Prospek Pasar Modal Indonesia

Melemahnya Rupiah berpotensi menekan nilai saham, memicu aksi sell-off oleh investor. Koreksi di pasar saham pun menjadi keniscayaan. Namun, mengingat pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh saham-saham emiten besar, stabilitas indeks masih mungkin terjaga jika ada intervensi atau sentimen positif.


Pertanyaan kritisnya adalah: seberapa lama ketahanan ini bertahan? Investor tidak akan terus menahan kerugian. Jika ketidakpastian global berlanjut, tekanan terhadap Rupiah dan IHSG bisa berlanjut hingga ada sinyal positif dari kebijakan ekonomi global atau perbaikan fundamental domestik.


Kesimpulan

Pelemahan Rupiah saat ini dipicu oleh faktor eksternal, terutama ketegangan perdagangan AS-China dan pelarian modal ke aset safe haven. Untuk mengurangi dampaknya, Indonesia perlu memperkuat ketahanan ekonomi, baik melalui stabilisasi pasar keuangan maupun mendorong pertumbuhan ekspor ke pasar non-tradisional. Tanpa langkah antisipatif, risiko volatilitas mata uang dan pasar modal akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Tujuan Kamu Tidak Berhasil (Dan Apa Yang Harus Dilakukan)

Orang-orang datang kepada saya untuk satu alasan utama: mereka stuck. Mereka punya mimpi besar. Hal-hal yang ingin mereka bangun, capai, dan...