Jumat, 07 Maret 2025

Dunia lagi nggak baik-baik aja?



Dunia emang lagi nggak baik-baik aja. Seorang teman nanya ke gue, apa sih yang bikin ekonomi global jadi penuh ketidakpastian? Ya, dampaknya tuh kerasa di semua negara. Nggak ada satu pun negara yang bisa dengan pede ngaku sebagai superpower ekonomi. China aja lagi struggling, apalagi Amerika. Eropa juga nggak lebih baik. Korea, Jepang, dan Taiwan? Udah nggak disebut macan Asia lagi. Dunia berubah, tapi bukan ke arah yang dijanjikan revolusi industri soal kemakmuran.


Masalah utama? Amerika.

Jadi, dulu AS mengarahkan ekonomi mereka dari mass production ke high-tech, shifting dari comparative advantage berbasis sumber daya ke competitive advantage berbasis sains. Kata mereka, prosperity is created, not inherited. Kekayaan nasional itu bukan sekadar soal sumber daya alam, tenaga kerja murah, atau nilai mata uang. Classic economic theories? They don’t buy that anymore.


Sementara itu, China tetap fokus pada comparative advantage. Mereka cepat-cepat revisi UU investasi asing, kasih insentif pajak, gaji murah, plus kepastian hukum. China langsung ngebut ambil alih produksi yang ditinggalkan AS. Hasilnya? Mereka menikmati substitusi impor dan serapan tenaga kerja besar-besaran. Tapi bukan cuma itu. China belajar banyak dari AS, terutama dalam mengelola industri modern.


Awalnya AS nggak merasa terancam sama pertumbuhan industri China. Malah mereka happy karena bisa dapet barang murah, bikin belanja domestik jadi lebih efisien. Tapi lama-lama, trade deficit AS ke China makin gede, dan makin banyak perusahaan AS yang merelokasi bisnis ke sana. Ya, namanya juga kapitalisme—profit first, cari tempat produksi paling murah. Akibatnya, PHK besar-besaran terjadi di AS. Di sisi lain, industri high-tech yang diandalkan AS nggak bisa nyerap semua tenaga kerja kelas menengah yang kehilangan pekerjaan.


Dampak lainnya? Excess capital AS malah ngalir ke sektor moneter yang akhirnya bubble. Ini bikin pergeseran mindset dari inovasi ke konsumsi berbasis utang. Puncaknya? Crisis 2008. Sejak itu, AS sibuk recovery dengan kebijakan moneter dan fiskal, tapi hasilnya? Nggak bikin mereka makin kuat. Malah bikin dunia makin nggak pasti. Karena let’s be real, USD itu udah jadi mata uang global. Tiap kali dolar naik atau turun, efeknya langsung kerasa ke stabilitas moneter dan fiskal di berbagai negara.


Now, here comes the big mess.

Imbalance economy udah terjadi. Nggak ada negara yang benar-benar aman. Apalagi setelah Trump balik jadi presiden 2024, kebijakan proteksionisme makin gila-gilaan. Efeknya? Inefisiensi belanja domestik, terutama barang impor. Inflasi bakal naik, suku bunga bakal susah turun. Ini juga bikin negara lain—termasuk Eropa dan Asia—kesulitan nurunin suku bunganya. Ekspansi sektor riil bakal makin melemah.


Trus Trump kasih kebijakan tax cut buat dorong ekonomi. Sounds good? Not really. Ini bakal bikin defisit APBN AS makin gede, utang nambah, yield Treasury Bills naik, dolar makin kuat, dan modal global bakal ngalir ke AS. Hasilnya? Global liquidity bakal makin ketat. Kalau likuiditas berkurang, negara-negara lain bakal makin susah ekspansi. Utang makin mahal, suku bunga naik, dunia usaha melemah. Pasar saham dan nilai mata uang? Pasti kena imbas.


Itulah gambaran sederhana ekonomi global sekarang. Terus, Indonesia gimana?

Well, honestly, agak sedih ngomongin ini. Kalau mau cari solusi, kita harus jujur soal borok ekonomi kita sendiri. APBN kita defisit, dibiayai utang. Masalahnya, utang itu nggak dipakai buat ekspansi ekonomi atau buka lapangan kerja, tapi buat bayar bunga dan cicilan. Kalau kita tambah utang lagi buat ekspansi, ruang fiskal makin sempit. Rupiah bakal makin lemah, SBN makin tinggi yield-nya. Kalau kita nggak nge-rem belanja dan utang, bisa aja rupiah dan SBN jadi sampah. Indonesia bisa jadi negara gagal.


Tapi bukan berarti nggak ada peluang.

Kalau kita bisa baca situasi dunia dengan cerdas, Indonesia bisa bertahan dan bahkan berkembang jadi negara besar. Gimana caranya? Manfaatin relokasi industri dan manufaktur dari China ke Indonesia. China butuh strategi buat ngadepin kebijakan proteksi AS dengan mindahin produksi mereka ke negara yang tarif impornya ke AS lebih rendah.


Vietnam emang dapet perlakuan tarif lebih friendly dari AS dibanding Indonesia, khususnya buat produk industri dan manufaktur. But here’s the thing. Indonesia punya peluang buat menawarkan relokasi industri downstream pertanian dan minerba ke China. Kita punya SDA yang melimpah, plus kita bagian dari Belt and Road Initiative (BRI). China udah investasi lebih dari USD 40 miliar di sini selama 10 tahun terakhir. Foreign Direct Investment (FDI) dari China ini bisa jadi penyelamat di tengah defisit fiskal kita.


Tapi, buat bisa manfaatin peluang ini, kita butuh hukum yang kuat, indeks korupsi yang membaik, dan perbaikan dalam ease of doing business. Bisnis rente yang bikin standar ESG dilanggar harus dipangkas. Leadership yang kuat juga wajib buat mitigasi risiko politik. Karena modal yang masuk ke Indonesia itu bukan duit dari dalam negeri China, tapi dari investor institusi global.


That’s the only way. Dari sisi moneter, kita udah nggak punya ruang lagi buat recovery. Jadi, stop omong kosong. This is a race against time. Got it?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Tujuan Kamu Tidak Berhasil (Dan Apa Yang Harus Dilakukan)

Orang-orang datang kepada saya untuk satu alasan utama: mereka stuck. Mereka punya mimpi besar. Hal-hal yang ingin mereka bangun, capai, dan...