Gue kepikiran : Apa bedanya antara planning dan kehendak? It’s like, dalam keseharian, kita punya banyak banget keinginan mulai dari hal-hal simple kayak “I want to learn a new skill” sampai yang agak ambitious kayak “I want to start my own business.” But then, seringkali niat doang nggak cukup buat mewujudkan semua itu. Here’s the thing : tanpa planning yang proper, kehendak sering cuma berhenti di level wacana atau angan-angan semata.
I mean, kehendak tuh basically rasa kepengen yang muncul dari dalam diri kita. Kadang sifatnya emosional, impulsif, atau justru super intense dan bisa stay bertahun-tahun tanpa real action. Sementara planning lebih structured dan detail. Lo bakal bikin timeline, set goals yang measurable, plus breakdown steps yang lu butuhin. Misal, lo pengin jadi penulis terkenal, so what’s next? Mau ikut workshop? Mau nulis 500 kata per hari? Yang kayak gini nih, udah masuk ke wilayah planning.
Kalo dipikir-pikir, planning dan kehendak itu saling complement each other. Kehendak is the fire starter—dia yang bikin lo excited buat ngelakuin sesuatu. Planning is the execution blueprint—dia yang bakal nuntun lo dari titik A ke titik B secara sistematis.
Kadang, kita butuh drive dan semangat yang lahir dari kehendak, tapi juga perlu step-by-step plan biar nggak go with the flow too much. So, buat lo yang lagi galau antara “ingin ini” dan “ingin itu,” coba reflect: apakah semua desire lo sudah dibarengin sama strategi yang konkret? Karena at the end of the day, this balance between raw passion and clear planning adalah kunci buat truly achieve apa yang lo mau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar