Definisi
post-truth
*adjective*
uk /ˌpəʊstˈtruːθ/ us /ˌpoʊstˈtruːθ/
relating to a situation in which people are more likely to accept an argument based on their emotions and beliefs, rather than one based on facts (berkaitan dengan situasi di mana orang lebih cenderung menerima argumen yang berdasarkan emosi dan keyakinan mereka, daripada argumen yang berdasarkan fakta).
sumber : cambridge dictionary
***
Era Post-Truth secara luas dianggap dimulai pada pertengahan hingga akhir 2010-an, meskipun akar-akar dari fenomena ini sudah mulai tumbuh lebih awal. Istilah "post-truth" menjadi sangat populer setelah digunakan oleh Oxford Dictionaries, yang menobatkannya sebagai Word of the Year pada tahun 2016. Tahun tersebut ditandai oleh peristiwa besar seperti referendum Brexit di Inggris dan pemilihan presiden di Amerika Serikat, di mana emosi, opini pribadi, dan disinformasi sering kali lebih memengaruhi pandangan publik daripada fakta objektif.
Namun, akar dari era Post-Truth bisa ditelusuri kembali ke beberapa dekade sebelumnya, seiring dengan berkembangnya internet dan media sosial. Platform ini memungkinkan informasi palsu atau bias untuk menyebar dengan cepat dan luas, sering kali lebih cepat daripada informasi yang benar. Proses ini diperparah oleh polarisasi politik yang semakin tajam dan menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi tradisional seperti media, pemerintah, dan ilmuwan.
Era ini menandai pergeseran signifikan dalam cara masyarakat berinteraksi dengan informasi dan kebenaran, di mana kebenaran sering kali diabaikan jika tidak sesuai dengan keyakinan atau preferensi emosional seseorang.
Pemerintah meyakini bahwa empat kompetensi abad 21 sebagaimana dirumuskan oleh Dennis van Roekel sebagai 4 C : yaitu critical thinking, communication, collaboration dan creativity, yang menitikberatkan pada bertanya sebagai wujud berpikir kritis dan kreativitas, perlu diimbangi dengan pendidikan yang berpijak pada ideologi kebangsaan.
***
Cara Menyikapinya
Sebagai individu, berikut tiga nasihat terbaik yang bisa saya berikan untuk menghadapi tantangan ini:
1. Kritis Terhadap Informasi
Jangan langsung percaya pada semua yang Anda baca atau dengar. Selalu periksa sumbernya, cari sudut pandang lain, dan gunakan logika sebelum menerima sesuatu sebagai fakta. Literasi media adalah keterampilan penting di era ini.
why?
Di era ini, informasi palsu dan manipulasi data sangat mudah ditemukan. Dengan bersikap kritis, Anda melindungi diri dari disinformasi yang dapat merusak pemahaman Anda tentang realitas. Ini memungkinkan Anda membuat keputusan yang lebih baik dan menjaga integritas pribadi.
2. Jaga Keseimbangan Emosional
Di tengah arus informasi dan emosi yang sering memanas, penting untuk menjaga ketenangan. Fokus pada apa yang bisa Anda kendalikan, dan hindari terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif. Meditasi, refleksi, atau hobi bisa membantu menjaga keseimbangan batin.
why?
Era sekarang penuh dengan ketidakpastian, yang bisa memicu kecemasan dan stres. Dengan menjaga keseimbangan emosional, Anda dapat menghadapi tekanan ini dengan lebih tenang dan rasional. Ini membantu Anda tetap fokus pada tujuan hidup Anda dan tidak terombang-ambing oleh kekacauan di sekitar.
3. Bangun Komunitas dan Koneksi Nyata
Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, memiliki komunitas yang mendukung adalah kunci. Jalin hubungan yang kuat dengan orang-orang di sekitar Anda, baik secara langsung maupun melalui kelompok yang berbagi nilai atau minat yang sama. Koneksi ini bisa menjadi sumber dukungan dan perspektif yang berharga.
why?
Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, rasa kesepian dan keterasingan menjadi masalah besar. Dengan membangun hubungan yang kuat, Anda menciptakan jaringan dukungan yang bisa memberikan kenyamanan, perspektif, dan bantuan nyata ketika dibutuhkan. Koneksi ini juga membantu Anda merasa lebih terhubung dan berkontribusi positif pada masyarakat.
mengabaikan fakta ? bukannya manusia sudah begitu ya dari dulu?
Kecenderungan untuk mengabaikan kebenaran yang tidak sesuai dengan keyakinan atau preferensi emosional memang bukan hal baru. Sejak zaman dahulu, manusia cenderung mencari informasi yang mendukung pandangan mereka (confirmation bias) dan menghindari atau menolak fakta yang bertentangan.
Namun, ada beberapa hal yang membuat fenomena ini semakin menonjol di era Post-Truth:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar