Senin, 15 April 2024

Hukum-Hukum Sifat Manusia

 


Kita sering menganggap diri kita sebagai individu yang unik, beradab, dan canggih dengan pikiran yang mandiri. Namun, jauh di dalam diri kita, terdapat hukum-hukum alamiah yang sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Hukum irasionalitas, narsisisme, iri hati, pandangan jangka pendek, agresi, dan penolakan terhadap kematian adalah beberapa di antaranya. Meskipun sulit untuk diterima, sifat-sifat ini seringkali membawa kita ke arah kegagalan, kecuali jika kita mengenalinya dan memahaminya serta mengendalikannya.

Dari genetika hingga pengasuhan, kita mewarisi banyak sifat. Tapi, kita juga sering terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita dan bagaimana kita cocok dalam kelompok tertentu. Ya, kita semua narsis, setidaknya sedikit. Dan sifat-sifat yang kita peroleh kemudian dalam hidup sering kali membutakan kita terhadap realitas yang lebih besar.

Pada titik tertentu, kita harus menyadari bahwa perubahan besar mungkin diperlukan untuk menghindari bencana di masa depan. Perubahan ini bisa dimulai dengan pengakuan atas Hukum Keagungan yang kita sembunyikan: kecenderungan kita untuk bereaksi lebih kuat terhadap sesuatu yang terjadi di depan mata dibandingkan dengan yang jauh di masa depan.

Dalam mengarungi kehidupan, kita cenderung kembali ke primitif kita; selalu berusaha mempertahankan kontrol, seringkali melalui perilaku yang menyebabkan sabotase diri—seperti sikap negatif, pemikiran reaksioner saat dalam kelompok, atau melihat orang lain sebagai perpanjangan dari diri sendiri. Kita bahkan bisa memanfaatkan sifat-sifat lemah ini untuk keuntungan kita.

Perjuangan untuk menemukan makna dan tujuan yang lebih tinggi sering kali terhambat oleh sikap defensif kita terhadap pengakuan atas sifat-sifat ini. Kita harus mengakui bahwa kecenderungan ini ada dalam diri kita semua dan mulai menggunakan energi dari emosi kita untuk keputusan yang lebih rasional dan kurang dipengaruhi oleh kelompok dan organisasi.

Ketika kita mampu melihat sifat-sifat umum ini, kita membuka jalan untuk meningkatkan empati kita terhadap sesama. Sebuah perspektif yang jauh melihat akan membantu kita memahami bahwa meskipun kita sering berusaha memisahkan diri dari sifat feminin atau maskulin—tergantung jenis kelamin kita—kita sebenarnya lebih baik saat merangkul dualitas ini dalam diri kita.

Mengerti bagaimana nilai-nilai generasional (Baby Boomer, Gen-X, Millenials) mempengaruhi pengambilan keputusan menjadi penting dalam memanfaatkan kebijaksanaan strategis—menunggu dan melihat apa yang terjadi, membiarkan "musuh" menghabiskan dirinya sendiri.

Dan mungkin, (hanya mungkin) kita dapat mengakui bahwa kita terkadang terlalu fokus pada pencapaian tujuan asli kita sehingga kita lupa untuk berhenti sejenak dan menghargai keindahan dan keajaiban kehidupan ini. 

Jadi, ambil waktu sejenak untuk merenungkan semua yang terjadi agar kehidupan bisa terjadi di planet ini. Barangkali, itu bisa menjadi inspirasi kita untuk melanjutkan perjalanan yang penuh dengan penerimaan serta perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Tujuan Kamu Tidak Berhasil (Dan Apa Yang Harus Dilakukan)

Orang-orang datang kepada saya untuk satu alasan utama: mereka stuck. Mereka punya mimpi besar. Hal-hal yang ingin mereka bangun, capai, dan...