Orang-orang datang kepada saya untuk satu alasan utama: mereka stuck.
Mereka punya mimpi besar. Hal-hal yang ingin mereka bangun, capai, dan alami dalam hidup. Tapi minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun—tidak ada yang terjadi. Waktu tergelincir dari jari mereka seperti pasir.
Jadi mereka mencari jawaban tentang tujuan.
Tujuan itu penting. Mereka memberimu destinasi. Tanpa tujuan, kamu akan berkelana tanpa arah. Tapi kebanyakan orang salah paham tentang tujuan—apa itu, apa fungsinya, dan di mana mereka gagal.
Menetapkan Tujuan Tidak Berhasil
Inilah kebenarannya: menetapkan tujuan saja tidak melakukan apa-apa.
Tujuan bukan sihir. Mereka tidak mengubah hidupmu hanya dengan ada di kepala atau di atas kertas. Yang penting adalah apa yang terjadi setelah kamu menetapkan tujuan—proyek yang kamu bangun untuk mencapainya.
Proyek adalah tempat pekerjaan nyata terjadi. Di mana ide bertemu aksi. Di mana rencana di pikiranmu menjadi kenyataan.
Pikirkan seperti ini: tujuan adalah destinasimu. Proyek adalah kendaraanmu.
Tujuan Tanpa Proyek Hanyalah Mimpi
Biar saya langsung: jika kamu punya tujuan tanpa proyek yang menyertainya, kamu sedang bermimpi.
Kebanyakan orang pikir mereka punya tujuan menulis. Tidak. Mereka punya mimpi menulis. Sama dengan olahraga. Sama dengan belajar bahasa.
Di awal 20-an, saya bermimpi bekerja di Jakarta di perusahaan BUMN. Saya terus membicarakannya. Membuat daftar perusahaan mana yang akan saya masuki. Membayangkan karir yang akan saya miliki.
Lalu suatu malam, ada yang klik.
Mimpi itu menjadi proyek. Saya memutuskan untuk melamar ke beberapa perusahaan BUMN di Jakarta.
Proses lamarannya brutal. Tes psikometri. Medical check. Beberapa putaran wawancara. Persyaratan administratif yang tak ada habisnya. Butuh lebih dari setahun hanya untuk melewati prosesnya.
Tahun itu mengubah hidup saya.
Setiap mimpi menunggu momen ketika kamu berkomitmen dan mengambil langkah praktis pertama. Saat itulah mimpi menjadi tujuan.
Proyek Tanpa Tujuan Hanyalah Hobi
Sekarang balik: kamu punya proyek tapi tidak ada tujuan.
Itu hobi.
Kamu melakukan sesuatu—mungkin banyak—tapi kamu tidak pergi ke mana-mana yang spesifik. Kamu hanya bersenang-senang. Yang mana tidak apa-apa, tapi jujurlah tentang itu.
Kamu bilang ingin meningkatkan budgeting. Tapi kamu tidak mengukur progres. Kamu tidak melacak hasil akhir. Kamu maju dua langkah, mundur tiga langkah.
Tanpa tujuan, usahamu tidak punya arah.
Hobi tidak buruk. Mereka memberi makna dan tekstur pada hidup. Kamu tidak perlu hebat di semua hal. Tidak semua hal perlu menjadi side hustle.
Ketika kamu memisahkan proyek dari hobi, keduanya membaik. Kamu bekerja keras ketika itu penting. Kamu benar-benar rileks ketika waktunya istirahat. Tidak ada kebingungan antara keduanya.
Kerangka Kerja
Ini semuanya dalam satu kalimat:
Proyek tanpa tujuan adalah hobi. Tujuan tanpa proyek adalah mimpi.
Tanya dirimu:
Tujuan apa dalam hidupmu yang sebenarnya adalah mimpi?
Proyek apa dalam hidupmu yang sebenarnya adalah hobi?
Ketika kamu memutuskan untuk berhenti bermimpi dan berhenti mengutak-atik, kamu butuh dua hal: tujuan yang menginspirasimu dan memberi arah, dan proyek yang membuatnya nyata.
Bagaimana Saya Tetap Konsisten
Perubahan terbesar dalam kemampuan saya menyelesaikan proyek-proyek penting datang dari membangun apa yang saya sebut Second Brain—sistem manajemen pengetahuan pribadi.
Ini membantu saya menangkap ide, mengorganisir informasi, dan memajukan proyek secara konsisten. Jika kamu tertarik membangun Second Brain-mu sendiri, ada banyak sumber dan metode yang bisa kamu jelajahi untuk menciptakan sistem yang cocok untukmu.
Saya harap ini beresonansi denganmu. Saya berharap yang terbaik untuk proyek, tujuan, mimpi, dan hobimu.