Rabu, 26 November 2025

Kenapa Tujuan Kamu Tidak Berhasil (Dan Apa Yang Harus Dilakukan)


Orang-orang datang kepada saya untuk satu alasan utama: mereka stuck.

Mereka punya mimpi besar. Hal-hal yang ingin mereka bangun, capai, dan alami dalam hidup. Tapi minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun—tidak ada yang terjadi. Waktu tergelincir dari jari mereka seperti pasir.

Jadi mereka mencari jawaban tentang tujuan.

Tujuan itu penting. Mereka memberimu destinasi. Tanpa tujuan, kamu akan berkelana tanpa arah. Tapi kebanyakan orang salah paham tentang tujuan—apa itu, apa fungsinya, dan di mana mereka gagal.

Menetapkan Tujuan Tidak Berhasil

Inilah kebenarannya: menetapkan tujuan saja tidak melakukan apa-apa.

Tujuan bukan sihir. Mereka tidak mengubah hidupmu hanya dengan ada di kepala atau di atas kertas. Yang penting adalah apa yang terjadi setelah kamu menetapkan tujuan—proyek yang kamu bangun untuk mencapainya.

Proyek adalah tempat pekerjaan nyata terjadi. Di mana ide bertemu aksi. Di mana rencana di pikiranmu menjadi kenyataan.

Pikirkan seperti ini: tujuan adalah destinasimu. Proyek adalah kendaraanmu.

Tujuan Tanpa Proyek Hanyalah Mimpi

Biar saya langsung: jika kamu punya tujuan tanpa proyek yang menyertainya, kamu sedang bermimpi.

Kebanyakan orang pikir mereka punya tujuan menulis. Tidak. Mereka punya mimpi menulis. Sama dengan olahraga. Sama dengan belajar bahasa.

Di awal 20-an, saya bermimpi bekerja di Jakarta di perusahaan BUMN. Saya terus membicarakannya. Membuat daftar perusahaan mana yang akan saya masuki. Membayangkan karir yang akan saya miliki.

Lalu suatu malam, ada yang klik.

Mimpi itu menjadi proyek. Saya memutuskan untuk melamar ke beberapa perusahaan BUMN di Jakarta.

Proses lamarannya brutal. Tes psikometri. Medical check. Beberapa putaran wawancara. Persyaratan administratif yang tak ada habisnya. Butuh lebih dari setahun hanya untuk melewati prosesnya.

Tahun itu mengubah hidup saya.

Setiap mimpi menunggu momen ketika kamu berkomitmen dan mengambil langkah praktis pertama. Saat itulah mimpi menjadi tujuan.

Proyek Tanpa Tujuan Hanyalah Hobi

Sekarang balik: kamu punya proyek tapi tidak ada tujuan.

Itu hobi.

Kamu melakukan sesuatu—mungkin banyak—tapi kamu tidak pergi ke mana-mana yang spesifik. Kamu hanya bersenang-senang. Yang mana tidak apa-apa, tapi jujurlah tentang itu.

Kamu bilang ingin meningkatkan budgeting. Tapi kamu tidak mengukur progres. Kamu tidak melacak hasil akhir. Kamu maju dua langkah, mundur tiga langkah.

Tanpa tujuan, usahamu tidak punya arah.

Hobi tidak buruk. Mereka memberi makna dan tekstur pada hidup. Kamu tidak perlu hebat di semua hal. Tidak semua hal perlu menjadi side hustle.

Ketika kamu memisahkan proyek dari hobi, keduanya membaik. Kamu bekerja keras ketika itu penting. Kamu benar-benar rileks ketika waktunya istirahat. Tidak ada kebingungan antara keduanya.

Kerangka Kerja

Ini semuanya dalam satu kalimat:

Proyek tanpa tujuan adalah hobi. Tujuan tanpa proyek adalah mimpi.

Tanya dirimu:

Tujuan apa dalam hidupmu yang sebenarnya adalah mimpi?

Proyek apa dalam hidupmu yang sebenarnya adalah hobi?

Ketika kamu memutuskan untuk berhenti bermimpi dan berhenti mengutak-atik, kamu butuh dua hal: tujuan yang menginspirasimu dan memberi arah, dan proyek yang membuatnya nyata.

Bagaimana Saya Tetap Konsisten

Perubahan terbesar dalam kemampuan saya menyelesaikan proyek-proyek penting datang dari membangun apa yang saya sebut Second Brain—sistem manajemen pengetahuan pribadi.

Ini membantu saya menangkap ide, mengorganisir informasi, dan memajukan proyek secara konsisten. Jika kamu tertarik membangun Second Brain-mu sendiri, ada banyak sumber dan metode yang bisa kamu jelajahi untuk menciptakan sistem yang cocok untukmu.

Saya harap ini beresonansi denganmu. Saya berharap yang terbaik untuk proyek, tujuan, mimpi, dan hobimu.

Senin, 24 November 2025

Kenapa Otak Mengabaikan Tujuan yang Samar (Dan Apa yang Harus Dilakukan)



Dulu saya sering menetapkan tujuan seperti "Saya ingin sukses" atau "Saya ingin lebih sehat."

dan Tidak ada yang terjadi.

Kemudian saya mempelajari sesuatu tentang cara kerja otak yang sebenarnya. Khususnya tentang jaringan kecil neuron yang disebut Reticular Activating System (RAS).

Memahami ini mengubah segalanya. 

Senin, 17 November 2025

Ultradian Rhythm: Rahasia Produktivitas yang Diabaikan Kebanyakan Orang

 


Kebanyakan orang tahu tentang circadian rhythm—jam biologis 24 jam yang mengatur kapan kita tidur dan bangun. Tapi hampir tidak ada yang tahu tentang ultradian rhythm.

Dan itu masalah besar.

Kenapa? Karena memahami ultradian rhythm bisa mengubah cara Anda bekerja. Bukan dengan trik produktivitas murahan atau life hack yang kedaluwarsa dalam seminggu.

Tapi dengan bekerja selaras dengan biologi Anda.

Apa Itu Ultradian Rhythm?

Sederhananya: ultradian rhythm adalah siklus biologis yang terjadi berkali-kali dalam sehari. Berbeda dengan circadian rhythm yang berdurasi 24 jam, ultradian rhythm berlangsung jauh lebih cepat—biasanya antara 90-120 menit. 

Self Compassion


Kita semua memiliki suara di dalam kepala kita. Suara itu seringkali adalah seorang kritikus.

Bayangkan ini: Anda membuat kesalahan di pekerjaan. Anda berkata sesuatu yang menyesal dalam sebuah hubungan. Anda gagal mencapai sebuah tujuan. Apa yang terjadi selanjutnya?

Kritikus internal itu muncul. Ia mulai berbicara. "Kamu tidak cukup baik." "Kamu selalu merusak segalanya." "Lihatlah orang lain, mereka lebih sukses darimu."

Kita tidak akan pernah membiarkan orang lain berbicara kepada sahabat kita dengan cara seperti itu. Namun, kita dengan mudah membiarkan suara ini berbicara kepada kita setiap hari. Ini melelahkan. Ini merusak. Dan yang paling penting: ini tidak efektif.

Ada cara yang lebih baik. Sebuah strategi yang tidak diajarkan di sekolah atau di sebagian besar tempat kerja, namun yang didukung oleh ilmu pengetahuan untuk meningkatkan ketahanan mental, produktivitas, dan kedamaian pikiran. Itu disebut Self-Compassion.

Bukan konsep "sentuhan-sentuhan" yang abstrak. Ini adalah alat praktis untuk kinerja dan kesejahteraan yang lebih baik.


Apa Sebenarnya Self-Compassion Itu?

Jumat, 14 November 2025

🧩 What’s a “Good Problem”?

 




Most people spend their lives trying to avoid problems. They think a “good life” means a life without stress, conflict, or discomfort. But here’s the truth: a life without problems isn’t a life. It’s stagnation. The trick isn’t to get rid of problems — it’s to have better ones. That’s what I call good problems.

Rabu, 08 Oktober 2025

Apa itu 'Prudent' ?




Pernah denger kata "prudent" terus bingung arti sebenernya apa? Tenang, kamu nggak sendirian. Kata ini emang lagi naik daun, apalagi di dunia finansial dan self-development. Yuk, kita bahas! 

Senin, 29 September 2025

Apa itu Discipline of Design

Pengertian Secara Umum

Discipline of Design adalah sebuah filosofi, pendekatan, dan kerangka kerja (framework) yang digunakan untuk memecahkan masalah kompleks dengan berfokus pada manusia (human-centered) dan melalui proses iteratif (berulang) untuk menciptakan solusi yang inovatif dan sesuai kebutuhan.

Dalam bahasa Indonesia, istilah ini sering diterjemahkan sebagai "Disiplin Desain" atau "Metodologi Desain", tetapi maknanya lebih dalam dari sekadar metodologi. Ini adalah sebuah cara berpikir (mindset) yang sistematis.

Intinya, Discipline of Design adalah tentang bagaimana kita mendesain solusi, bukan hanya tentang bagaimana sesuatu terlihat.

Kenapa Tujuan Kamu Tidak Berhasil (Dan Apa Yang Harus Dilakukan)

Orang-orang datang kepada saya untuk satu alasan utama: mereka stuck. Mereka punya mimpi besar. Hal-hal yang ingin mereka bangun, capai, dan...